Minggu , Januari 22 2017

Mengadu Domba

dress-to-killMenurut Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarfin Nawawi dalam kitab Riyadul Salihin mendefinisikan Namimah adalah merekayasa omongan untuk menghancurkan manusia.

Dalam kitab Irsyadul Ibad ada sebuah cerita tentang seorang lelaki yang ingin membeli budak di pasar budak. Dia kemudian mendapat kan seorang budak perempuan untuk bekerja di rumahnya. Si penjual menyatakan bahwa budak ini sangat tangkas bekerja. Bekerjanya bagus, namun budak ini punya satu kekurangan : mulutnya suka mengadu domba.

Alhasil lelaki itu kemudian membawa pulang budak tersebut untuk bekerja di rumahnya. istrinya senang dengan cara kerja pembantu baru ini. Kerjanya bagus. Hampir semua urusan rumah beres. Sampai kemudian sifat jeleknya menimbulkan musibah yang sangat besar dalam keluarga tersebut.

Si pembantu yang mulutnya kotor dan mengadu domba ini menceritakan hubungan suaminya dengan beberapa perempuan di luar secara hiperbolik. Ditegaskannya pada si nyonya bahwa ada kemungkinan suaminya akan kawin lagi. Untuk itu, si pembantu menawarkan jasa pengasihan. Yang ida butuhkan hanya beberapa helai rambut sang suami, untuk dijadikan alat pelet dan sang suami pasti lengket pada si nyonya. Si nyonya pun setuju. Dia berencana akan memotong beberapa helai rambut suaminya di malam hari, saat suaminya tidur.

Tak berhenti di situ, si pembantu bicara dengan si suami. Dia bercerita bahwa istrinya tak lagi percaya padanya. Dia punya niat jelek terhadap suaminya. Si pembantu menyarankan si suami untuk waspada di malam hari, karena si istri mungkin akan melaksanakan niat jeleknya.

Maka di malam hari sang suami pun membawa pisau untuk berjaga jaga. Ketika ia melihat istrinya datang membawa gunting, dia menjadi yakin bahwa sang istri berniat membunuhnya. Maka, saat si istri mendekat dia lalu menusuk istrinya hingga tewas. Tewaslah istrinya secara mengenaskan karena ulah mulut pembantunya, yang tangkas bekerja namun tak mampu menjaga lidah.

Tak berhenti di situ. Keluarga si istri tak terima, Mereka membunuh si suami sebagai pembalasan dendam kematian keluarganya. Saat si suami tewas, keluarga si suami pun tak terima. Maka karena mulut si pembantu, terjadilah permusuhan dua keluarga besar yang sebelumnya akur akur saja.

Kenapa Sampean Tak Suka Ahok ?

15094432_646173695562909_2236687265513467711_nPadahal dia tangkas dalam bekerja, tidak korupsi dan banyak hasil kerjanya yg bermanfaat bagi penduduk Jakarta…. aneh saja ada penduduk DKI yg tidak suka Ahok.

Namimah inilah salah satu alasan orang-orang tak menyukai Ahok. Ucapannya telah mengadu domba elemen bangsa. Kemampuannya menjaga lidah sangat lemah, sehingga menjadi gubernur DKI saja ia telah menyinggung perasaan banyak orang hingga pelosok Madura.

Jika pun dia punya seratus kelebihan –dianggap tidak korupsi, tegas dan tangkas bekerja– dan hanya satu kekurangan –gaya komunikasi politik yang super jelek–, satu kekurangan ini cukup untuk jadi pertimbangan besar kelayakannya sebagai pemimpin. Mengapa ? karena persatuan Indonesia jauh lebih penting dari sekedar kemampuan teknokratis membangun sebuah kota.

Apalagi, kemampuan dan ketangkasannya sejatinya banyak cacatnya, sebagaimana dijelaskan di banyak tempat oleh banyak pihak seperti Romo Sandyawan Sumardi, Pak Rizal Ramli, Menteri Susi, Dhandy Dwi Laksono, Farid Gaban, Yu Sing dan banyak pihak yang menyayangkan caranya mengelola kota yang cenderung otokratis, bahkan mendekati fasis.

Wallahu a’lam.

———————

Cukuplah bagi kita mengingat nasehat dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan, maka dia boleh mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka lebih baik dia diam.”

Heru Binawan

Kata kuncin penghantar:

| bela islam 2 desember | mengadu dua helai rambut|