Minggu , Januari 22 2017

Kapolri: Saya curiga jangan-jangan ada agenda lain, Sama: Kami juga curiga jangan-jangan ada agenda lain. Terbukti Ahok melanggar 1 dari 3 unsur subyektif, mau alasan apalagi?

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut, rencana aksi 2 Desember nanti menyimpan agenda tersembunyi.Bukan lagi soal tuntutan proses hukum Ahok, melainkan sudah bernuansa politik.

“Kami sudah meminta tokoh dan ulama bicara tujuannya apa, kalo langgar UU akan kami tindak tegas. Karena ini bukan lagi urusan Ahok, kami jelas telah jamin proses hukum limpahkan kasus ke jaksa dan diharapkan secepatnya diproses ke ke pengadilan,” kata Tito di Jakarta, Minggu (tribunnews, 20/11/2016)

“Saya minta masyarakat berpikir rasional dalam mengawal kasus ini. Kami bekerja sesuai dengan undang-undang. Kalau ada yang meminta penahanan, saya curiga jangan-jangan ada agenda lain,” kata Tito di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (detik, 16/11/2016).

ahok-ditahan-ada-agenda-lain

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, penahanan terhadap tersangka merupakan kewenangan penyidik. Menurutnya, ada dua alasan penyidik sesuai KUHAP dalam melakukan penahanan, yakni objektif dan subjektif.

Dalam hal ini, Tito lebih memilih tiga unsur subjektif yang dimiliki penyidik. Pertama, adalah unsur bagaimana tersangka dikhawatirkan melarikan diri. Menurutnya, penyidik belum memiliki alasan kuat untuk menahan Ahok karena yang bersangkutan sejauh ini kooperatif.

“Tapi saya tidak ambil risiko, saya tambah cegah keluar negeri,” ujar Tito saat memberikan sambutan pada Tabligh Akbar di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2016).

Subjektivitas kedua adalah yang bersangkutan dikhawatirkan akan menghilangkan alat bukti. Dalam kasus ini, barang bukti berupa rekaman video di Kepulauan Seribu sudah disita penyidik. Bahkan, keaslian rekaman itu sudah diuji oleh tim forensik.

Sementara unsur yang ketiga adalah kekhawatiran tersangka mengulangi perbuatannya. “Kalau yang bersangkutan kami lihat belum ada upaya itu, kami belum lakukan penahanan,” katanya.

Terbukti Ahok melanggar 1 dari 3 unsur subyektif, pasca jadi tersangka, Ahok dipolisikan Lagi ke Bareskrim.

Sudah jadi tersangka Ahok semakin sombong. Dia menyebutkan peserta aksi 411 didanai 500 perkepala. Salah satu peserta Aksi Bela Islam 411, Herdiansyah melaporkan Ahok ke Bareskrim Polri sore ini. Herdiansyah melaporkan Ahok atas keterangannya di laman berita online Internasional terkait aksi 4 November.

Kamis 17 November 2016 jam kami akan melaporkan Ahok ke Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan tindak pidana fitnah dan penghinaan bahwa sebagian besar Demonstran 411 dibayar Rp 500.000,”. Selengkapnya:  Pasca Jadi Tersangka, Ahok Dipolisikan Lagi ke Bareskrim

Video ini menjadi bukti bahwa unsur yang ketiga yaitu kekhawatiran tersangka mengulangi perbuatannya telah terjadi.

Jika Kapolri menilai ada agenda lain dibalik tuntutan penahanan Ahok, kami juga curiga ada agenda lain kenapa Ahok tidak ditahan, mengingat Ahok adalah sentral dalam eksistensi keberadaan rezim Jokowi.

Rezim Jokowi yang tulang punggung politiknya adalah PDIP dan merupakan antitesa dari Orde Baru, tentu agenda utama setelah berkuasa ialah mengokohkan dan memperbanyak pilar-pilar kekuasaannya, baik dari dalam maupun dari luar.

Salah satu pilar kekuasaan dari luar yang dibangun oleh rezim Jokowi ialah dukungan politik strategis dari China. Dukungan politik strategis dari China penting, tidak saja karena secara spirit memiliki kesamaan dengan elemen rezim Jokowi, tapi juga dalam rangka meningkatkan bargaining rezim Jokowi di hadapan Amerika sebagai sekutu organik bagi rezim Orde Baru yang merupakan saingan dan lawan rezim Jokowi.

Masalahnya tidak ada yang gratis dalam hubungan timbal-balik politis. Sekalipun China juga memerlukan persekutuan dengan rezim Jokowi, namun harus ada bukti dan simpul yang mengikat persekutuan di antara mereka.

Simpul persekutuan itu adalah Ahok. Ahok bagi China adalah pembuktian atas perwujudan persekutuan rezim Jokowi dengan China. Adapun bagi rezim Jokowi, Ahok adalah tanda mata dan balas budi bagi jasa China yang telah membina persekutuan strategis antara China dan rezim Jokowi. Intinya, Ahok adalah prasasti hidup atas persekutuan rezim Jokowi dengan China. Itulah sebabnya, keberadaan Ahok sebagai penguasa DKI dan mungkin akan meningkat ke level yang lebih tinggi. (nusantarakini, 2016/10/21)

Terbukti Ahok tidak bisa jaga mulut, Ahok melanggar 1 dari 3 unsur subyektif yang ketiga yaitu kekhawatiran tersangka mengulangi perbuatannya, mau alasan apalagi? (up-islam)

Kata kuncin penghantar:

| taktik tito menjerat rizieq|