Home / Kabar / “Asset Bangsa Kenapa Harus Diobral” Pengamat: Aset negara yang dijual karena digunakan untuk membayar hutang (Rp3.500 – 3.800T)

“Asset Bangsa Kenapa Harus Diobral” Pengamat: Aset negara yang dijual karena digunakan untuk membayar hutang (Rp3.500 – 3.800T)

Up-News – “Asset Bangsa Kenapa Harus Diobral” Pengamat: Aset negara yang dijual karena digunakan untuk membayar hutang (Rp3.500 – 3.800T)

Pengamat politik Dr Musfihin Dahlan mengatakan, harus ada alasan yang sangat kuat dan harus dikemukakan secara transparan ke publik terkait adanya sejumlah aset negara yang bakal dijual. Apalagi jika aset yang dijual tersebut bersifat strategis seperti bandara dan pelabuhan. Oleh karenanya perlu menggalang bangkitnya kekuatan civil society termasuk media untuk mengawasi agar kekayaan negara tidak diobral oleh Menteri BUMN dan Menteri Keuangan

“Khusus untuk aset negara yang bersifat strategis seperti bandara dan pelabuhan tidak boleh dijual bahkan sekalipun hanya dikelola asing. Karena aset tersebut ada kaitannya dengan keamanan negara. Penguasaan bandara ataupun pelabuhan menjadi simbol penguasaan sebuah wilayah atau negara,” kata Dr Musfihin Dahlan saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema “Asset Bangsa Kenapa Harus Diobral” yang digelar BARRI di Jakarta, Jumat (17/11/2017).

Baca Juga  Alexis Ditutup, Iwan Fals: Pemilu Pelacur Boleh Nyoblos, Kenapa gak Bikin Partai aja?

Musfihin menuturkan, pengelolaan kekayaan negara harus diatur sesuai dengan Pasal 33 UUD 45 yang berbunyi, ayat 1 Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat 2 cabang cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat 3 Bumi, Air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Lihat juga  Surat Pejuang HAMAS di Gaza untuk Muslim Indonesia Bikin Mata Berkaca-kaca

Baca Juga  2 Bulan, Pemerintah Harus Kumpulkan Pajak Rp 425 Triliun

“Intinya melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang atau seorang, secara monopoli, tidak dapat dibenarkan namun fakta saat ini berlaku didalam praktek usaha, bisnis dan investasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam sedikit banyak bertentangan dengan prinsip Pasal 33,” jelasnya.

Bayar Utang

Sementara itu pengamat media Ridlo Eisy mengatakan, banyaknya aset negara yang dijual karena digunakan untuk membayar hutang yang saat ini mencapai Rp3.500 – 3.800 triliun. Utang juga dilakukan pemerintah untuk membangun infrastruktur di berbagai daerah pedalaman. Namun jika pembangunan infrastruktur tersebut tidak sesuai dengan nilainya maka harus dikejar wartawan apa yang menjadi masalahnya.

Lihat juga  Ditemukan Foto Asli Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari yang Bersorban, Berjenggot, dan Berjubah

Baca Juga  KH. Mustari: “Perppu Ormas berpotensi memecah ummat bahkan membuat Indonesia kacau balau”

Oleh karena itu wartawan jangan terlalu percaya dengan angka-angka yang disodorkan pemerintah. “Wartawan bisa cek ke Rizal Ramli (ekonom) yang jagonya dalam angka-angka itu,” ujar Ridlo.

Sementara itu Sekjen Asosiasi Pekerja (Aspek) Indonesia, Sabda Pranawa Djati mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus memprioritaskan dana hasil penjualan aset-aset negara untuk kebutuhan yang paling mendasar yang dialami rakyat. Diantaranya untuk kebutuhan pendidikan.

Saat ini buruh juga tengah berjuang agar pemerintah untuk mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Karena saat ini biaya hidup terus mengalami kenaikan sementara upah yang diterima buruh tidak mengalami kenaikan.

(Harian Terbit/Safari)

Sumber: Sehat Akal Suci Hati
“Asset Bangsa Kenapa Harus Diobral” Pengamat: Aset negara yang dijual karena digunakan untuk membayar hutang (Rp3.500 – 3.800T)

Lihat juga  Gara-gara Cecok Mulut, Petani Palestina yang Rendah Hati Ditembak Mati Pemukim Yahudi
Shares