Home / News / Sahar, 1 Diantara Ratusan Balita yang Tewas Kelaparan Akibat Pengepungan Rezim Assad

Sahar, 1 Diantara Ratusan Balita yang Tewas Kelaparan Akibat Pengepungan Rezim Assad

Up-News – Sahar, 1 Diantara Ratusan Balita yang Tewas Kelaparan Akibat Pengepungan Rezim Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sahar berumur satu bulan. Dia sangat kurus sehingga tulang rusuknya menonjol di bawah kulit tipis yang tembus cahaya. Sahar menghembuskan napas terakhirnya pada hari Ahad (22/10/2017) di Ghouta Timur Suriah, di mana pengepungan rezim Syiah Nushairiyah yang sangat menghancurkan telah mendorong ratusan anak ke ambang kelaparan akut.

Hanya setetes bantuan kemanusiaan yang sampai ke wilayah yang dikuasai oposisi di timur Damaskus, di bawah blokade ketat oleh pasukan rezim Assad sejak 2013.

Ghouta Timur adalah satu dari empat zona “de-eskalasi” yang didirikan pada bulan Mei di bawah kesepakatan antara para pendukung kelompok yang berperang dalam perang enam tahun Suriah yang menghancurkan.

Namun pasokan makanan masih jarang masuk ke wilayah tersebut, di mana pejabat medis mengatakan ratusan anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Pada hari Sabtu, Dofdaa, orang tua Sahar yang baru berusia 34 hari, membawanya ke rumah sakit di kota Hamouria, Ghouta Timur.

Foto-foto yang difilmkan oleh seorang reporter yang bekerja dengan AFP, Senin (23/10/2017) menunjukkan seorang gadis bermata lebar yang cekung dengan hanya memiliki kulit menempel di tulang belulangnya.

Lihat juga  Delegasi Hamas Menuju Mesir Untuk Pembicaraan Rekonsiliasi

Dia mencoba menangis tapi tidak memiliki kekuatan untuk membuat banyak suara. Ibunya yang masih muda terisak-isak di dekatnya.

Tulang pahanya menonjol keluar dari popok yang berukuran jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ditempatkan pada timbangan, beratnya kurang dari dua kilogram (lebih dari 4 pounds).

Seperti ratusan anak lainnya di Ghouta, Sahar menderita gizi buruk akut.

Ibunya terlalu kekurangan gizi untuk menyusui dan ayahnya, yang bekerja di toko daging dengan gaji kecil, tidak mampu membeli susu dan suplemen untuknya.

Sahar meninggal di rumah sakit pada Ahad pagi dan orang tuanya membawanya – anak tunggal mereka – ke kota terdekat di Kafr Batna untuk menguburkannya.

Kematiannya terjadi setelah anak laki-laki lain di Ghouta juga meninggal karena kekurangan gizi pada hari Sabtu, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan.

“Warga menderita kekurangan pangan yang parah, dan saat barang tersedia di pasar, harganya sangat tinggi,” kata Observatorium.

Petugas medis di rumah sakit dan klinik kesehatan di Ghouta Timur mengatakan bahwa mereka memeriksa puluhan anak-anak yang kekurangan gizi setiap hari – dan jumlahnya terus meningkat.

Lihat juga  Lihat Kaligrafi di Tembok Penjara, Pak Polisi Terkejut, 'Ini Siapa Yang Bikin?'

Gambar yang diambil oleh seorang koresponden AFP menunjukkan bayi-bayi dengan tulang kerangka menonjol dengan wajah-wajah tirus seperti hantu.

Seseorang mengalami kesulitan bernapas, yang lain memiliki tabung makanan di mulutnya dan yang satu lagi memiliki perban yang melilit lengan mungilnya.

Yahya Abu Yahya, dokter dan kepala dinas medis untuk LSM Sosial Irlandia, yang memiliki beberapa pusat kesehatan di Ghouta, mengatakan bahwa pusat kelompok mereka telah memeriksa 9.700 anak-anak dalam beberapa bulan terakhir.

“Dari jumlah tersebut, 80 orang menderita gizi buruk akut, 200 menderita malnutrisi akut sedang, dan sekitar 4000 orang menderita kekurangan gizi,” katanya.

Dana anak UNICEF mendefinisikan “malnutrisi akut parah” sebagai bentuk kekurangan gizi yang paling ekstrem dan terlihat.

“Malnutrisi akut parah tampak pada anak kecil – yang tampak rapuh dan hanya terlihat seperti kerangka – yang membutuhkan perawatan mendesak untuk bertahan hidup,” katanya.

Abu Yahya mengatakan bahwa banyak anak di Ghouta Timur menderita “kekurangan, migrain, masalah penglihatan, depresi, masalah psikologis”.

Lihat juga  Muslimah Bima Peduli Tebar 1000 Jilbab

Menurut angka PBB, sekitar 400.000 orang tinggal di bagian-bagian yang terkepung di Suriah, mayoritas di Ghouta Timur.

Meski ada kesepakatan mengenai zona de-eskalasi yang didukung oleh pendukung rezim yaitu Rusia dan Iran dan sponsor oposisi yaitu Turki, wilayah tersebut masih memiliki akses bantuan yang sangat terbatas.

Abu Yahya mengatakan bahwa daerah tersebut tidak menerima makanan dasar yang dibutuhkan anak-anak, seperti gula, sumber protein dan vitamin.

Pada tanggal 23 September, sebuah konvoi yang membawa makanan dan bantuan medis bagi sekitar 25.000 orang memasuki tiga wilayah yang dikepung di Ghouta Timur, menurut PBB.

Namun Abu Yahya mengatakan, bantuan apa pun yang sampai ke wilayah tersebut mencakup hanya lima sampai 10 persen kebutuhan anak-anak yang kekurangan gizi.

Sahar adalah korban terakhir dilaporkan dari krisis pangan di Ghouta Timur.

Pada hari ahad, ayahnya membawa anak kecil itu ke kuburannya. Di belakangnya, keluarga mereka berjalan bersama ibu Sahar, yang hampir pingsan karena kesedihan.

Sumber: Jurnal Islam
Sahar, 1 Diantara Ratusan Balita yang Tewas Kelaparan Akibat Pengepungan Rezim Assad