Home / News / Radikalisme Dan Bahaya Pembacaan ” Semiotik Ala Rezim !

Radikalisme Dan Bahaya Pembacaan ” Semiotik Ala Rezim !

Up-News – Radikalisme Dan Bahaya Pembacaan ” Semiotik Ala Rezim !




Oleh : Muhammad Alauddin Azzam
Aktivis Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM)
Mediaoposisi.com- Viral, tersebar informasi secara masif mengenai aksi kebangsaan melawan radikalisme pada besok (Sabtu, 28 Oktober 2017). Titik pusat aksi akbar tersebut berada di Jakarta. Selain itu,  daerah-daerah juga mengadakan aksi serupa sebagai “penunjang” aksi yang berada di pusat (red. Jakarta). Penyelenggara aksi meng-“klaim” akan mengumpulkan 4,5 juta mahasiswa dari 4000 kampus, serta diselenggarakan di hampir 34 provinsi di seluruh Indonesia. Fantastis! 
Agaknya mahasiwa, rektor, civitas akademis, dan “stake-holders” kampus harus memahami kembali slogan “Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme” yang digadang oleh penyelenggara. Apa sebetulnya maksud dari slogan tersebut?  Radikalisme seperti apa yang dimaksud? 

Radikalisme, Netralitas, dan Paradigma Sosial
Radikalisme adalah sebuah kata yang unik. Karena ia adalah kata yang seolah “melangit”, dan sangat sering digunakan dalam dunia intelektual, termasuk mahasiswa, dosen, rektor dan civitas akademik kampus lainnya. Kata ini merupakan gabungan dari dua kata yakni  radikal dan -isme. 
Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya perubahan mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) atau dalam bahasa Inggris kata ‘radic’ yang artinya ‘akar’ atau bisa disebut ‘mengakar’. Sedangkan -isme adalah imbuhan yang bermakna: paham, pikiran, paradigma, ideologi. 
Maka,  radikal-isme adalah paham, pikiran,  paradigma, atau ideologi yang mengusung perubahan mengakar, drastis, menyeluruh. Definisi radikalisme memurut KBBI adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, sikap ekstrem dalam aliran politik,  dan lainnya. 
Radikalisme adalah kata yang sangat umum. Ia bisa dipakai oleh siapa saja, dengan berbagai kepentingan apapun dengan berbagai tafsir dan interpretasi.  Radikalisme mempunyai arti yang spesifik, makna tidak langsung, berpihak, dan sebagainya. Maka, radikalisme itu netral dan akan menjadi tidak netral ketika ‘diisi’ oleh paradigma sosial. Paradigma sosial biasanya menggunakan metodologi sosial dalam memahami konteks. Konteks disederhanakan dalam teks yang dibaca menggunakan pembacaan semiotik.  
Pembacaan “Semiotik” Ala Rezim
Pembacaan semiotik adalah sebuah metode membaca teks sebagai tanda (signal). Tanda sebagai teks dibaca menggunakan metode pembacaan heuristik dan hermeneutik. Teks sebagai tanda itu dibaca pada spesifikasi tingkat pertama. Setelah itu,  dibaca lagi pada tingkat kedua. Pada tingkat pertama,  teks diartikan secara normatif.  Tingkat kedua,  teks dibaca secara hermeneutik untuk memahami makna dibalik teks. Begitu sederhananya ketika kita memahami definisi pembacaan semiotik.
Unsur subjektiftas dalam diri mufassir, pentafsir dan mutarjim,  penerjemah sangat dominan. Ia (subjek) tatkala membaca objek hingga pada tingkat “klimaks” dalam ruang pembacaan semiotik dibutuhkan al-ma’luumaat as-saabiqah (informasi-informasi sebelumnya). Maka,  makna dibalik teks akan dapat dimaknai,  diinterpretasi,  didefinisikan,  apabila informasi-informasi sebelumnya sudah didapatkan tentang teks tersebut.  Perlu diperhatikan,  teks tidak berdiri sendiri.  Teks dibaca berdasarkan konteks dibantu informasi-informasi sebelumnya. 
Sumber-sumber al-ma’luumaat as-saabiqah beragam.  Bisa dari referensi sejarah,  ekopol,  filsafat,  hukum,  dan sebagainya.  Intinya,  literasi membangun daya pemaknaan terhadap teks. Namun,  pembacaan ini berakhir pada subjektifitas mufassir atau mutarjim.
Maka,  bila membahas “Radikalisme” sebagai kata, potentially bisa diperselisihkan dalam dunia “orang sosial”. Misal, kita mengatakan, “radikalisme dalam reformasi ’98”, bisa jadi bukan itu yang dimaksud.  Kita harus memahami teks itu lagi!  Pahami teks,  retroaktifkan-lah,  cari makna tingkat kedua,  baru kita akan menemukan maksud dibalik radikalisme yang dimaksud. 
Contoh lain,  radikalisme dibaca menggunakan semiotik ala rezim.  Mungkin pandangan Albert Camus (Filosof Prancis),  Sir Karl Popper (Filosof Inggris),  dan Filosof kenamaan Jean Paul Sartre yang mendefinisikan radikalisme dengan pandangan yang khusus dan berkaitan dengan pemikiran mereka terhadap agama dan radikalisme.  Mereka membaca agama dan korelasinya dengan kekerasan.  Setelah itu,  pandangan-pandangan ini menjadi teori umum dan dijadikan sumber-sumber informasi sebelumnya bagi bahan pembacaan semiotik oleh rezim.
Saya kurang tahu apa yang dirumuskan oleh “think-tank” dibalik word “radikalisme” yang dimasukkan dalam sebuah “action” dalam “aksi kebangsaan melawan radikalisme”. “Briefing” di dalam rumusan “radikalisme” inilah yang akan membentuk makna. Jadi,  bila dilihat konteks “aksi kebangsaan melawan radikalisme” terhadap konteks politik hari ini ditambah “briefing” ala rezim dibantu “think-tank” bisa dipastikan jumlahnya adalah “interest” (kepentingan).
Tafsir tunggal, serangan, dan kepentingan
Pembacaan semiotik bisa dipastikan akan melahirkan tafsir tunggal. Radikalisme akan dimaknai oleh “pemegang kunci” dari pemegang kata itu.  Maka,  bisa dipastikan semua kalangan bisa mendefiniskan lalu menafsirkan radikalisme semaunya. Karena ia (radikalisme) saat ini dimiliki oleh rezim. Rezim yang mampu menafsirkan “radikalisme” oleh pembacaan semiotik-nya. 
Setelah dibaca,  digunakan.  Digunakan untuk apa ? Serangan. Pahami lagi kalimat “aksi kebangsaan melawan radikalisme”. Makna hasil pembacaan semiotik disajikan lalu diinterpretasikan.  Positif atau negatif?  Apabila menurut ma’luumaat as-saabiqah-nya (informasi-informasi sebelumnya) positif,  pasti positif.  
Bila tidak,  sebaliknya. Sekali lagi,  rumusan “think-tank” berpengaruh pada hasil “sajian”. Jelas “radikalisme” adalah bentuk yang harus “diserang” menurut bacaan “think-tank”. Sekarang,  siapa “radikalisme” itu?  Ya,  tergantung “think-tank”nya ? Siapa “think-tank”-nya?  Ehm… 
Bila ada perlawanan,  ada suatu hal yang ingin jadi kepentingan.  Kepentingan inilah yang saat ini sudah terlihat.  Kita bisa cek situasi ditengah rezim hari ini penuh dengan kedustaan dan pengkhianatan.  Perihal kepentingan pembangunan, proyek, hutang luar negeri,  dan seterusnya. You know lah…

Bahaya Polarisasi
Polar itu kelompok atau kubu.  Bila kita mengetahui Cold of War,  Perang Dingin, maka disanalah kita bisa mengerti polar.  Polar Amerika,  polar Uni Soviet. Ini namanya perang dwi-polar.  Hari ini,  kita ingin dibentuk dengan cara polarisasi.  Proses membentul “polar”. Gerakan mahasiswa dan masyarakat ingin dibelah dan dibentuk dwi-polar.  
Polar pertama berada di kelompok “aksi kebangsaan melawan radikalisme”. Polar kedua adalah rival-nya, enemies-nya,  yakni kubu “radikalisme”. Siapa yang hari ini menjadi kubu “radikalisme” versi pembacaan semiotik ala rezim? Lalu,  ketika sudah dwi polar,  maka semakin sedikit pro terhadap polar “radikalisme” dan kubu “aksi kebangsaan melawan radikalisme” mengalami kekuasaan absolut.  Siapa yang diuntungkan? Pribumi? [ MO/bp]

Sumber: Media Oposisi
Radikalisme Dan Bahaya Pembacaan ” Semiotik Ala Rezim !

Lihat juga  Rezim Brutal Kembali Menangkapi Mahasiswa Pejuang Rakyat !