Home / News / Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

Up-News – Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

MUSLIMDAILY.NET _ Seusai shalat Subuh berjamaah di Masjid dekat rumah pada Ahad pagi tadi (22 Oktober 2017), imam masjid naik ke atas mimbar menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). Imam shalat yang berusia sekira 60an tahun itu menyampaikan sebuah hadis yang memperingatkan umat agar mewaspadai suatu zaman dimana Islam dan Al Quran tinggal hanya ajarannya, bangunan Masjid bermegahan tetapi tak ada kegiatan Islam di dalamnya, serta banyak ulama jahat yang terkenal berbicara membela buta penguasa hanya untuk memperoleh harta dan kesejahteraan semata. Ia pun menyinggung sedikit tentang suatu peristiwa di tahun 1965 saat PKI meneror masyarakat yang berlawanan ideologi dengan mereka yang tak mengindahkan ajaran agama bahkan melecehkannya tanpa takut terhadap ancaman neraka apalagi dosa.

Kultum yang disampaikan imam masjid seusai shalat Subuh itu mengingatkan penulis pada peristiwa tepat 52 (lima puluh dua) tahun silam di kawasan ujung timur kota Surakarta di tepian sungai Bengawan Solo, di perbatasan kampung Pucangsawit dan Sewu, yang disebut Kedung Kopi.

*

Jumat pagi usai shalat subuh, saat sinar matahari belum keluar dari tidur malamnya, Ali Imron bersama belasan pemuda Kampung Sewu berniat pergi ke Balai Muhammadiyah kota Surakarta. Dengan mengayuh sepeda, mereka bersama-sama menuju gedung yang terletak di Jalan Teuku Umar, Keprabon, Surakarta. Setelah melewati tanggul, mereka menyusuri jalan RE Martadhinata melewati Pasar Gedhe, Balai Kota Surakarta, lalu berbelok kanan di perempatan Kantor Pos menuju ke arah barat. Setelah mengayuh sepeda sekitar 1 Km, mereka berbelok ke kiri masuk Jl. Keprabon. Balai Muhammadiyah berada di sisi kanan atau barat jalan sekira 200 meter dari belokan perempatan.

Tujuan Ali Imron dan kawan-kawannya tak hanya untuk menghadiri pengajian, tetapi juga untuk menyambut kedatangan pasukan RPKAD yang hendak memasuki kota Surakarta dalam rangka melakukan operasi pembersihan PKI pendukung gerakan 30 September (Gestapu).

Lihat juga  Try Sutrisno: TNI Terlibat Peristiwa 1965, tapi…

Menurut buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999, disampaikan, pasukan RPKAD mengadakan gerakan ke Solo, dan tiba sekira pukul 15.30 yang kemudian langsung mengadakan pameran kekuatan dan mengamankan Gedung Balai Kota untuk mencegah para demonstran anti PKI menduduki gedung tersebut. Selanjutnya pada pukul 16.30 pasukan RPKAD bergerak ke stasiun Solo Balapan untuk membubarkan pemogokan. Saat itu, Komandan Resimen RPKAD (Sarwo Edhie Wibowo) menekankan agar para pemogok bekerja lagi seperti biasa. Mereka diharapkan jangan terpengaruh oleh G 30 S/PKI, dan jangan ragu-ragu untuk membantu ABRI dalam mengikis habis pimpinan G 30 S/PKI.

Saat teman-teman Ali Imron telah pulang dan tiba di kampung Sewu, Ali Imron dan satu orang kawannya Muhammad Sudarto masih belum terlihat batang hidungnya. Keduanya baru beranjak pulang seusai waktu Isya’.

Saat melewati tanggul di Jl. RE Martadinata, keduanya dihentikan oleh sekelompok pemuda PKI bersenjata tajam. Tak hanya dihentikan, keduanya juga menerima teror ancaman serta tindak kekerasan.

Diantara wujud tindak kekerasan yang diterima, Muhammad Sudarto ditusuk-tusuk matanya. Dikarenakan Sudarto memiliki ilmu kebal, segala upaya pemukulan dan penusukan terhadapnya gagal total. Berkali-kali matanya ditusuk dengan pisau hanya keluar air mata. Tak ada luka dan rasa kesakitan yang dirasakan Sudarto. Melihat kekebalan Sudarto, mereka pun melepasnya.

Nasib berbeda dialami Ali Imron. Ia tak memiliki ilmu kebal. Ia pun ditangkap, diikat, dan kemudian digiring oleh sejumlah pemuda PKI bersama dengan pemuda-pemuda lain yang sudah ditangkap menuju sebuah daerah yang dikenal dengan Kedung Kopi.

Lihat juga  Innalillahi, Asyik Minum Kopi, Tukang Tambal Ban Ini Meninggal Dunia

Di Kedung Kopi inilah, Ali Imron digorok lehernya dan kepalanya dipukul dengan batu besar hingga pecah tengkorak belakangnya. Ali Imron bersama dua belas orang lainnya menjadi korban pembunuhan pemuda PKI di Kedung Kopi. Diantara dua belas orang itu adalah Munawir, Sumiwo, Joko Sasono, Permadi, Saranto, dan Sutiman Dempo.

Bersamaan dengan itu, sejumlah orang juga hilang. Mereka yakni Letnan 2 Suyanto, satu orang warga Pucang Sawit (tak diketahui namanya), dan enam orang lainnya dari beberapa kelurahan di Solo. Ketiga belas orang yang menjadi korban hingga tewas itu 2 (dua) orang dari pemuda Marhaenis, 5 (lima) pemuda Muhammadiyah, 3 orang pemuda Katolik, dan sisanya tidak diketahui namanya.

Ihwan penemuan mayat ketiga belas orang itu tidak terjadi secara berbarengan. Mayat Ali Imron pertama kali ditemukan oleh seorang penarik becak pada Sabtu subuh 23 Oktober 1965. yang kemudian melaporkan ke rumah orangtua Ali Imron. Orangtua Ali Imron adalah seorang pengusaha Muslim yang bernama Bashiron Imam Musthofa. Ia merupakan aktivis Muhammdiyah dan cukup terpandang di Kampung Sewu. Setelah dipastikan mayat yang ditemukan adalah Ali Imron, jenazah dibawa ke rumah Bashiron oleh RPKAD.

Berbekal tambahan informasi dari Sutiman Dempok, salah seorang anggota Pemuda Muhammadiyah yang berhasil lolos melarikan diri saat hendak dieksekusi oleh pemuda PKI di Kedung Kopi, RPKAD kemudian berhasil menemukan mayat-mayat korban pembunuhan para pemuda PKI lainnya di Kedung Kopi.

Sutiman Dempok nyaris menjadi korban pembunuhan oleh PKI di Kedung Kopi. Ia merupakan satu-satunya warga yang berhasil meloloskan diri menjelang proses eksekusi pada Jumat malam tanggal 22 Oktober 1965 di Kedung Kopi. Ia mampu lolos dengan cara menggulingkan diri di sebidang tanah rawa-rawa dan kemudian menyelinap lari dan berlindung di rumah bapak Bashiron Imam Musthofa, yang merupakan juragan tempat Sutiman Dempok sehari-hari bekerja.

Lihat juga  Sepanjang Bulan Oktober, Masjid Al-Aqsha Dinista Sebanyak 125 Kali

* Kedung Kopi*

Kedung Kopi sendiri merupakan daerah kecil yang terletak di tepi sungai Bengawan Solo. Secara geografis, ia terletak di kelurahan Pucangsawit, Surakarta, namun dekat dengan kelurahan Sewu, Surakarta.

Sebagai bentuk peringatan atas peristiwa pembantaian warga oleh sekelompok pendukung PKI di Kedung Kopi, di lokasi itu dijadikan Monumen Perisai Pancasila dan kini menjadi cagar budaya yang ditetapkan pada November 2012. Saat ini, Monumen Perisai Pancasila tampak kotor tak terawat. Bagian sisinya penuh dengan lumut, bahkan tulisan Solo dan tanggal peristiwa pembantaian nyaris tidak terbaca.

Monumen itu dibuat sebagai pengingat peristiwa pembantaian 13 orang di Kedung Kopi pada 22 Oktober 1965 atau lebih dari tiga pekan setelah peristiwa G30S. Di lokasi itu, yang sebelumnya berupa pulau, pada 23 Oktober 1965, sebanyak 13 mayat ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Peristiwa penemuan mayat ini dikenal sebagai Peristiwa Kedung Kopi.

Cerita warga sekitar, Kedung Kopi mulanya adalah sebuah pulau kecil di tengah Sungai Bengawan Solo. Pulau itu dikelilingi air sungai atau orang Jawa menyebutnya Kedung. Nama Kedung Kopi sudah ada sejak masa penjajahan Belanda karena lokasi itu dijadikan tempat angkut muat komoditas kopi. Di tempat tersebut juga terdapat rumah gubuk tempat beristirahat dan sebuah makam yang diyakini warga sekitar merupakan makam orang Belanda.

Sekitar 1970an, pemerintah melakukan pelurusan aliran sungai. Pulau itu pun terkena dampak, yaitu menyatu dengan daratan kampung sekitar. Seiring waktu, banyak hunian wargan berdiri. Namun pada 1990an, pemerintah melakukan penertiban hunian di bantaran Sungai Bengawan Solo. [AF]

Sumber: Muslimdaily.net
Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965