Home / News / Pasca Rekonsiliasi: Haruskah Kita Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Hamas?

Pasca Rekonsiliasi: Haruskah Kita Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Hamas?

Up-News – Pasca Rekonsiliasi: Haruskah Kita Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Hamas?

Dr Amira Abo el-Fetouh
Saya tidak akan mengritik Hamas atau rakyatnya di Jalur Gaza lagi. Mereka telah melakukan apa yang orang lain tidak sanggup. 3 kali perang dalam 10 tahun dengan Israel dan blokade ekonomi mencekik yang dilakukan musuh mereka, Israel dan juga saudara mereka, Mesir yang mengendalikan perbatasan Rafah dan telah mencegah bantuan dari negara-negara lain masuk. Mereka menderita kekurangan obat-obatan, makanan dan bahan-bahan bangunan, sementara pengkhianat otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abbas memotong gaji pegawainya di Gaza dan tidak mau membayarkan biaya listrik ke penjajah Israel. Walhasil, Gaza kehilangan pasokan listrik. Kondisi ini menjadikan penduduk mereka hidup dalam kegelapan, sementara peralatan rumah sakit dan beberapa institusi penting lainnya tidak teraliri listrik.

Penduduk Gaza hidup dalam kesulitan karena mereka memilih bersama dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Hamas, yang memenangkan pemilu, namun dimusuhi oleh seluruh dunia karena dituduh teroris. Ini adalah kartu yang dimainkan pemerintahan kudeta di Mesir dalam rangka menundukkan Hamas dan memaksa mereka menerima persyaratan rekonsiliasi dengan Israel. Menyingkir dan membiarkan otoritas Palestina yang korup berkuasa di Jalur Gaza.

Adalah fakta bahwa Al Sisi membenci Ikhwanul Muslimin dan menganggap Hamas sebagai bagian Ikhwanul Muslimin. Hal ini menjelaskan permusuhannya terhadap gerakan ini dan upayanya untuk memperluas pengepungannya atas Gaza. Dia memaksa rakyat Gaza untuk memberontak melawan Hamas dan menjatuhkannya, namun ketika rencana tersebut tidak terealisasi, dia memaksa proses rekonsiliasi anatara Hamas dan Fatah serta menyelenggarakan pemilu baru yang dapat menyingkirkan Hamas. Dia memaksakan rekonsiliasi ini, meskipun upaya serupa di Jeddah selama pemerintahan Raja Abdullah dan upaya lainnya dari Kairo dan Qatar sebelumnya berakhir dengan kegagalan.

Lihat juga  Nasihat Ustad Abdul Somad untuk Penguasa: Memangnya kita mati bawa apa? Bawa Islam. Maka perjuangkan Islam

Apa yang menyebabkan upaya rekonsiliasi tersebut sukses, yang tidak diragukan lagi dibutuhkan dan dikehendaki oleh semua hampir pihak? Pertama, lingkungan internasional telah berubah sama sekali. Lebih jauh, keberhasilan konter revolusi, posisi Hamas atas revolusi Suriah dan penolakannya atas perang melawan rakyatnya telah berdampak dalam hubungannya dengan Iran, pendukung utama revolusi. Hal ini tidak pelak menyebabkan Hamas sendirian menghadapi rencana jahat dunia.

Apalagi, perubahan dalam kepemimpinan Hamas sendiri. Pengangkatan kepala biro politik Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar telah menyebabkan perubahan dalam kebijakan gerakan ini. Hamas juga memainkan peran dalam konflik antara Mahmoud Abbas dan Muhammad Dahlan. Dia memainkan peran penting dalam mewujudkan rekonsiliasi, yang ditandai dengan kunjungan PM otoritas Palestina Rami Hamdallah ke Jalur Gaza dan kekuatan politiknya setelah Hamas membubarkan komite adminitratifnya di Gaza. Kendali perbatasan akan diserahkan dari Mesir ke Israel, hal yang lebih diinginkan Mesir daripada Israel.

Lihat juga  Ini Pidato Megawati Saat Sebut Pribumi

Dalam pandangan saya, titik paling pentingnya, yang rekonsiliasi belum dapat selesaikan adalah kekuatan militer Hamas, Brigadir Al Qassam. Tentu, pemerintah Mesir dan otoritas Palestina ingin membubarkan dan melucutinya, yang juga merupakan keinginan Israel dan Amerika. Tidak mungkin AS dan Israel akan mendukung proses rekonsiliasi tersebut tanpa janji Al Sisi dan Abbas untuk mencapai target ini. Mereka tidak kecewa karena sesaat PM-nya tiba di Gaza, Mahmoud Abbas  mengeluarkan pernyataan bahwa dia tidak akan mengijinkan senjata diluar kontrolnya.

Dari sini letak bahaya rekonsiliasi dan menimbulkan sejumlah pertanyaan tentang tujuan utamanya, yakni menumpas Hamas sebagai gerakan perlawanan dan melucutinya. Inilah yang saya takutkan.

Apakah pembubaran brigade Qassam begitu mudah pada saat pasukan Israel sendiri tidak dapat melakukannya. Hal ini mendorong negara Zionis Israel menyerahkan tugas itu kepada rakyat Palestina sehingga mereka bisa saling berperang satu sama lain sehingga berujung perang saudara seperti halnya di Suriah, Irak, Yaman dan Libya? Inikah rencana baru untuk menghancurkan pertahanan akhir bangsa Palestina melawan pendudukan Israel? Apakah Hamas akan hancur dengan sendirinya setelah rekonsiliasi? Pertanyaan-pertanyaan ini lebih mudah dijawab dalam beberapa waktu mendatang. Kami jelas tidak akan mengucapkan selamat tinggal kepada Hamas, tapi kami berharap dapat berjumpa dengan anda lagi segera. DVD MURATTAL

Sumber: Muslimina
Pasca Rekonsiliasi: Haruskah Kita Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Hamas?