Home / Kabar / Obituari: Abah Ruwanto dan Pertemuannya dengan Hizbut Tahrir! Selamat jalan, Abah

Obituari: Abah Ruwanto dan Pertemuannya dengan Hizbut Tahrir! Selamat jalan, Abah

Up-News – Obituari: Abah Ruwanto dan Pertemuannya dengan Hizbut Tahrir! Selamat jalan, Abah

Bismillaahirrahmaanirraahiim. Namanya Ruhwanto. Saya bersahabat dengan beliau sejak 2010, hingga kematian menjemputnya, Senin dinihari 30 Oktober 2017.

Dulu, beliau sering cerita tentang masa lalunya dan bagaimana pertemuannya dengan Hizbut Tahrir. Inilah yang akan saya kisahkan, meski tidak semuanya.

Di zaman meledaknya Reformasi, beliau adalah kader militan partai merah. Pernah beliau, dengan mengenakan kaos merah partainya, menghadang ribuan rombongan partai kuning, yang di dalamnya ada Bupati karena arak-arakan itu beliau anggap salah. Padahal beliau hanya berdua dengan kakaknya. Alhasil, aksi berani itu harus dibayar dengan menginap beberapa hari di Koramil setempat.

Sebagai kader terbaik partai di daerahnya, beliau pernah dipanggil menghadap para petinggi partai di Jakarta, bahkan menginap di rumah ketua umumnya.

Hingga akhirnya muncul sebuah partai putih. Partai Islam. Nuraninya mengatakan, perjuangan partai ini lebih baik. Berjuang demi agama. Maka berlabuhlah beliau dan kakaknya di partai putih ini.

Di partai putih inilah beliau dibimbing untuk mengenal Islam lebih baik. Yang sebelumnya beliau akrab dengan dunia preman dan bahkan ilmu-ilmu hitam, berubah menjadi Islami. Alhamdulillah.

Lihat juga  Reklamasi Jalan Terus, Membiarkan Negara Dalam Negara

Baca Juga  Tolak Perppu Ormas, Ratusan Masa Demo di Kantor DPRD Sumut

Di partai putih ini pulalah beliau pertama kali mendengar kata “ha-te”, sebuah akronim yang awalnya tidak beliau pahami maksudnya. Hanya karena gurunya sering menyebut “ha-te” dengan nada minor, akhirnya beliau menyimpulkan bahwa “kita harus pandai menjaga hati. Jangan sampai hati kita kotor”, hehe.

Lambat laun, akhirnya beliau dengar pula nama “hizbut tahrir” disebutkan. Masih dengan nada minor. Kali ini beliau menyimpulkan bahwa Hizbut Tahrir itu nama orang. Dan beliau membayangkan orang tersebut sangatlah kejam, yang punya banyak centeng yang selalu siap mengawalnya. Hehe.

Hingga beliau hadir dalam sebuah ceramah. Ceramah itu memukaunya. Tentang Islam dan bagaimana memperjuangkannya. Selesai acara, dihampirinya sang pembicara. “Ajari saya Islam, Ustadz”, pinta beliau.

Sang Ustadz menjawab, “Boleh, tapi jangan sendirian. Bawalah teman”.

Karena keburu pingin ngaji, sementara membayangkan nyari teman untuk ngaji itu susah, akhirnya ia terpaksa berbohong kepada seorang temannya.

Lihat juga  Ngeri! Reklamasi Teluk Jakarta, Pintu Masuk Kuasai Laut Jawa dan Selat Sunda

Baca Juga  Pesan Megawati: Hati-hatilah PDI Perjuangan, Kita Ini Selalu Dijadikan Target

“Ayo, belajar jurus,” bujuknya. Maksudnya, belajar ilmu kanuragan. Sang temen dengan antusias menerima ajakan itu.

Lalu dimulailah halqah. Membaca kitab, tentu saja. Thariqul Iman dan seterusnya. Hingga beberapa kali pertemuan, temannya tadi protes, “Ini kapan belajar jurusnya? Dari kemarin teori mulu”!! 😃😃😃

Singkat cerita, beliau istiqamah ngaji sementara temannya yang niatnya belajar jurus itu mengundurkan diri.

Waktu juga akhirnya yang membuktikan bahwa mabda Islam telah merasuk ke dalam dadanya. Akhirnya beliau pun tahu bahwa “ha te” itu bukan sekedar hati. Dan bahwa Hizbut Tahrir itu bukan nama orang, apalagi orang jahat. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai bermabda Islam dengan cita-cita mulia melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah, yang ditempuhnya dengan thariqah nubuwwah. Di sinilah pelabuhan terakhirnya.

Beliau berdakwah dengan semangat yang jauh lebih membara bahkan dibanding saat beliau masih di partai merah. Saung (gubug) tempat beliau jualan bunga disulap menjadi “Daarul Arqam”, rumah penggemblengan untuk kader-kadernya. Saya menjadi saksi betapa gerakan beliau yang awalnya kecil menjadi membesar dan diperhitungkan banyak orang.

Lihat juga  Muslim di Inggris: Memegang Teguh Keyakinan Islam dalam Bermuamalah dengan Non-Muslim

Baca Juga  Catet ! Polisi Janji Siap fasilitas demonstran penolak Perppu Ormas temui DPR

Hingga akhirnya HTI dibubarkan pemerintah. Dengan perppu, yang kemudian menjelma UU. Tapi beliau tidak berhenti berdakwah. Semangat tak pernah pudar. Bahkan saat Sidang Paripurna pengesahan UU tersebut, beliau hadir ke Jakarta meski dengan kursi roda karena serangan tetanus yang beliai derita, untuk menyampaikan kalimah haq di hadapan penguasa.

Seminggu setelah UU ini sah, beliau dipanggil Allah, dalam keadaan muslim dan sebagai pengemban mabda Islam.

Tentu saja saya sangat berduka, tapi saya tidak akan mengucapkan kalimah kesedihan, tetapi kalimah yang disenangi oleh Allah: Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun.

Selamat jalan, Abah. Semoga engkau dikumpulkan bersama para pejuang Agama Allah di tempat terbaik di sisiNya. Aamiin..

ABAH RUHWANTO DAN PERTEMUANNYA DENGAN HIZBUT TAHRIR
(SEBUAH OBITUARI)
Oleh Ahmad Nadhif

Sumber: Sehat Akal Suci Hati
Obituari: Abah Ruwanto dan Pertemuannya dengan Hizbut Tahrir! Selamat jalan, Abah