Home / News / Kiat-Kiat Menumbuhkan Karakter Baik Pada anak

Kiat-Kiat Menumbuhkan Karakter Baik Pada anak

Up-News – Kiat-Kiat Menumbuhkan Karakter Baik Pada anak

Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama pembentuk kepribadian anak. Keberhasilan pendidikan di keluarga menjadi pondasi karakter anak. Imam al-Ghazali berkata, “Anak adalah amanat di tangan kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong
kepada segala sesuatu.” Keluarga memiliki peran untuk menumbuhkan karakter anak. Hal itu bisa dicapai ketika keluarga mampu melakukan hal-hal berikut ini.

1. Menampilkan suri teladan yang baik
Apa yang dilakukan oleh anak adalah hasil dari meniru orang terdekatnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa saja mengatakan kepada anak kecil, ‘Kemarilah aku beri sesuatu.’ Namun dia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan” (HR. Ahmad). Jika anak-anak melihat orangtua dan keluarganya berlaku jujur, maka mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Begitu pula sebaliknya.

2.Mencari waktu yang tepat untuk memberikan nasihat
Ketika orangtua mampu memilih waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepada anak, maka akan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil nasihat yang diberikan. Ada tiga waktu yang tepat untuk memberikan nasihat kepada anak, yaitu :
a. Dalam perjalanan
Abdullah bin Abbas yang masih usia sekitar 8-10 tahun tahun bercerita, “Nabi shalallahu alaihi wasalam diberi hadiah seekor keledai oleh Kisra.
Beliau menungganginya dan memboncengku. Beliau menoleh dan berkata, ‘Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu…’” (HR. Tirmidzi).
b. Waktu makan
Mendampingi anak untuk makan dan memberikan pengarahan serta mengajarkan anak tentang adab. Umar bin Abi Salamah ra bercerita. Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Rasulullah bepesan kepadaku, ‘Nak, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.’ Sejak saat itu, begitulah cara makanku” (HR. Bukhari dan Muslim).
c. Waktu anak sakit
Sakit dapat melunakkan hati yang keras. Anas bin Malik menceritakan seorang anak Yahudi yang sakit. Nabi shalallahu alaihi wasalam menjenguknya. Beliau duduk dan berkata kepadanya, “Masuk Islamlah.” Dia melihat ke arah bapaknya. Si bapak berkata, “Turutilah Abul Qosim (panggilan lain
Nabi saw, Red).” Maka, dia pun masuk Islam. Nabi shalallahu alaihi wasalam pun berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Lihat juga  Seruan Hangat Kepada Para Ulama Dan Habib

3. Bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak
Nu’man bin Basyir pernah bercerita saat masih kanak-kanak bahwa bapaknya membawanya menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan berkata, “Sesungguhnya aku akan memberikan hadiah kepada anakku ini.” Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bertanya, “Apakah seluruh anakmu engkau beri pemberian yang sama dengannya?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.” Maka bapakku menarik kembali pemberian itu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lihat juga  Hanya Karena ini, Seorang Anak Polisikan Ayahnya

4. Menunaikan hak anak
Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam diri anak dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasalam meletakkan cawan itu dari tangannya (HR. Bukhari -Muslim dari Sahl bin Sa’ad).

Lihat juga  Cegah Houthi jadi Syiah Hizbullah, Pangeran Arab: Perang di Yaman akan Terus Berlanjut

5. Tidak suka marah dan mencela
Sering memarahi anak hanya akan menjadikan anak semakin sulit diatur, apalagi memarahinya tanpa sebab yang jelas. Mencelanya juga menjadikan anak menjadi penakut. Semasa anak-anak, Anas bin Malik menjadi pelayan Nabi shalallahu alaihi wasalam selama sepuluh tahun. Anas berkata, “Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku.
Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya” (HR. Ahmad)

6. Mendoakan anak
Mendoakan anak adalah bentuk kasih sayang dan ketulusan orangtua dalam mendidik anak. Para nabi dan rasul memberi teladan untuk berdoa kepada Allah agar dianugerahi keturunan yang shalih. Nabi Ibrahim berdoa ‘robbi habli minash sholihin’ ‘wahai Rabb-ku, berilah aku keturunan yang shalih” (QS. Ash Shaffat 100).

oleh: Wijaya Kurnia Santoso (praktisi pendidikan)

Diambil dari Majalah Donatur Al Falah edisi 353 Agutus 2017

Sumber: Muslimdaily.net
Kiat-Kiat Menumbuhkan Karakter Baik Pada anak