Home / Kabar / HTI Duga Pengesahan UU Ormas Kental Politik Transaksional

HTI Duga Pengesahan UU Ormas Kental Politik Transaksional

Up-News – HTI Duga Pengesahan UU Ormas Kental Politik Transaksional

-Sidang Paripurna DPR telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) nomor 2/2017 tentang Ormas menjadi UU. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menduga pengesahan tersebut kental dengan aroma politik transaksional, menyingkirkan politik rasional.

Ia menimbau pihak yang tidak setuju dengan pengesahan Perppu Omas menjadi undang-undang untuk mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi.

“Pengesahan itu mengabaikan semua argumen-argumen rasional yang melihat kelemahan Perppu tersebut, baik secara formil maupun secara materiil,” kata Ismail dalam ketarangan tertulisnya, Sabtu (28/10/2017).

Lihat juga  PAN, Demokrat, PPP, Gerindra minta putusan Perppu Ormas ditunda

Baca Juga  Refly Harun: Tak Ada Kegentingan yang Memaksa Terbitnya Perppu Ormas

Ismail berpendapat, secara formil tidak terdapat alasan yang bisa diterima bagi terbitnya Perppu itu. Tidak ada kegentingan yang memaksa Perppu tersebut harus ada.

Buktinya, 10 hari sejak diterbitkannya Perppu, tidak satupun tindakan pemerintah dilakukan berdasarkan Perppu tersebut.

“Baru di hari ke-10, Perppu itu digunakan untuk membubarkan HTI tanpa alasan yang jelas,” katanya.

Menurut Ismail, secara materiil, Perppu Ormas juga banyak mengandung masalah. Perppu ini secara nyata menghapus kekuasaan kehakiman.

“Ini bertentangan dengan prinsip keadilan hukum yang semestinya selalu menjadi tujuan dibuatnya peraturan perundangan,” ungkapnya.

Lihat juga  MUI Kritik tindakan GP Ansor Bangil yang Tolak Felix Siauw

Baca Juga  Bicara Konsekuensi Hukum Jika Perpu Ormas Diterima Semua Agama selain Islam Harus Dibubarkan Eggy dilaporkan ke polisi

Padahal, Indonesia memiliki PTUN yang memungkinkan Ormas yang dibubarkan mengajukan gugatan atas pembubaran itu.

Pengadilan pembubaran berbeda dengan pengadilan gugatan PTUN.

“Pengadilan pembubaran adalah mengadili substansi, sedang PTUN adalah mengadili administrasi atau prosedur pembubaran,” jelas Ismail.

Ismail pun menyatakan, Perppu Ormas juga melahirkan ketidakpastian hukum, terutama mengenai pengertian paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Lihat juga  Jelang Paripurna, PKS Tegas Tolak Perppu Ormas Jadi UU

Ia mengkritisi penjelasan mengenai paham yang bertentangan dengan Pancasila dari Pasal 59 ayat 4 huruf c mengenai larangan Ormas menganut, mengembangkan dan mengajarkan paham yang bertentangan dengan Pancasila. Menurutnya, itu justru menimbulkan mutlitafsir.

Baca Juga  Gerindra Kembali Tegaskan Tolak Perppu Ormas

“Ini sangat berbahaya karena Peppu bisa menjadi alat represifme penguasa dimana penguasa menjadi penafsir tunggal dari apa yang dimaksud paham yang bertentangan dengan Pancasila, sehingga bisa menciptakan extractive institution yang vandalisik,” katanya.(yn)

teropongsenayan, 28/10/2017

Sumber: Sehat Akal Suci Hati
HTI Duga Pengesahan UU Ormas Kental Politik Transaksional