Home / News / Eks Wartawan BBC: “Pikiran Besar Anies Baswedan Disambut Pikiran Cetek”

Eks Wartawan BBC: “Pikiran Besar Anies Baswedan Disambut Pikiran Cetek”

Up-News – Eks Wartawan BBC: “Pikiran Besar Anies Baswedan Disambut Pikiran Cetek”

Baca Juga 



“Pikiran Besar Anies Baswedan Disambut Pikiran Cetek”


  Yes  Muslim  – By Asyari Usman
(Eks wartawan senior BBC)

Presidential-style. Begitulah kualitas pidato politik perdana yang disampaikan oleh Gubernur Anies Baswedan. Gaya seorang presiden. Anies bagaikan mencuri start kampanye Pilpres 2019. Sayangnya, orang-orang yang berpikiran “hostile” (seteru) terhadap Anies hanya mampu menangkap kata “pribumi”, yang menjadi salah satu pokok pidato politiknya itu, dalam konteks yang sangat sempit. Yaitu, konteks dikotimis yang tidak penting.

Padahal, Anies berbicara tentang gagasan untuk membebaskan seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya rakyat Jakarta, dari belenggu keterjajahan. “Great mind” yang ada di dalam diri Anies ingin menyampaikan kepada publik bahwa Indonesia sangat perlu mengkonfrontir belenggu keterjajahan yang melanda rakyat.

Ketika dia menyebutkan “pribumi”, Anies disalahpahami seolah ingin menyulut antagoni yang berbahaya. Orang-orang yang memiliki “small mind” (pikiran cetek) menyangka Anies yang berpikiran “cetek” seperti mereka. Mereka tidak mampu melihat dampak jangka panjang dari belenggu keterjajahan yang terbentuk dari kekeliruan dalam penbangunan ekonomi nasional.

Anies ingin mengingatkan bahwa ketimpangan sosial yang semakin besar dan akut bisa menumpuk diskonten yang akan merugikan seluruh tatanan kehidupan. Ketimpangan itu, menurut pandangan Anies, bersumber dari disparitas taraf hidup yang masih sangat kental diwarnai oleh perbedaan penguasaan faktor-faktor ekonomi.

Tak terelakkan lagi, disparitas itu menggiring kita untuk melihat “siapa” yang menguasa “apa” dan “berapa”. Ketika melihat kondisi ini berulang-ulang, kesimpulan yang paling kuat ialah bahwa kaum “pribumi” masih mendominasi penerimaan residu pembangunan. Lebih lugas lagi, warga “pribumi” adalah tempat pembuangan sampah pembangunan.

Dengan meminjam kacamata kepemimpinan nasional dalam pidato politik kegubernuran, Anies mencoba untuk memperlihatkan persepsi bahwa kondisi suram kaum “pribumi” harus segera dikoreksi. Semangat untuk melakukan koreksi itulah yang tampaknya mendorong Anies untuk meletakkan terminologi “pribumi” sebagai ruh pidatonya.
Lihat juga  Anies Sebut “Pribumi” Dibilang Rasis, Steven Hina Gubernur NTB “Pribumi Tiko” Mereka Diam

Sayang sekali, “small mind” menganggap Anies ingin memecah belah bangsa. Mereka kesulitan untuk memahami “great mind” Pak Gubernur yang terasa lebih cocok diimbali dengan kursi presiden. Orang-orang “small mind” kemudian terjebak ke dalam “talking about people” alias “mencak-mencak mencari kesalahan orang”.

Anies mengajak bicara soal gagasan untuk mengoreksi kondisi sosial yang buruk, sementara “orang seberang” hanya paham satu bahasa saja yaitu bahasa “gebuk” dalam kamus premisme mereka. Suasana menjadi “tak nyambung”.

Mereka lebih suka membawa Anies berperkara di kantor polisi ketimbang berusaha mencari pemahaman yang komprehensif tentang potensi ancaman akibat kondisi buruk kaum “pribumi” yang tidak dikoreski.

Benar juga kseimpulan President Franklyn Roosevelt, bahwa “Great minds talks ideas, average minds talk events, small minds talk about people”. (Pikiran besar berbicara ide, pikiran rata-rata berbicara tentang peristiwa, pikiran kecil berbicara tentang orang).***

Isu pribumi yang bergulir kencang belakangan ini dinilai tak berefek pada kerontokan citra personal Anies Baswedan sebagai gubernur yang baru dilantik. Pernyataannya soal pribumi yang “digoreng” oleh lawan-lawan politik Anies dengan melaporkannya ke polisi, justru makin mendongkrak kesukaan dan simpati mayoritas publik kepadanya.
Demikian disampaikan peneliti senior LSI Network Denny JA, Toto Izul Fatah kepada Republika.co.id di Jakarta ( 20/10) menanggapi pro kontra seputar pidato Anies Baswedan saat pelantikannya sebagai gubernur DKI Jakarta di Istana Negara beberapa waktu lalu.
“Saya menduga, jika dilakukan survei hari ini, elektabilitas Anies makin meroket. Yang mendukung dan simpati kepada Anies akan lebih banyak ketimbang yang menolak,” ungkap Toto.
Karena itu, menurut dia, jika upaya melaporkan Anies ke polisi itu bermuatan politik untuk merusak citra Anies, cara seperti tiu pasti salah, tidak cerdas, tidak tepat dan tidak strategis. Sebab, dengan menggulirkan isu tersebut, baik melalui proses hukum maupun demo, justru akan membuat image personal Anies makin moncer.
toto izzul fatah  171020192149 944 - Isu Pribumi Makin Dongkrak Elektabilitas Anies
Toto Izul Fatah
Toto berpendapat, dari perspektif komunikasi publik, ia menilai sangat tidak cerdas dan ceroboh apa yang dilakukan lawan politik Anies itu. Walaupun, dikemas dengan ramuan sosial yang public intrest seperti berpotensi memecah belah bangsa atau ramuan hukum dengan adanya celah pelanggaran pidana dan lain-lain.
“Salah besar jika ingin merusak citra Anies dengan manuver seperti itu. Sebab, isu pribumi itu sebenarnya bisa lebih seksi dari isu PKI. Kalau ini terus digulirkan, justru Anies yang akan menuai keuntungan politiknya. Atau, jangan-jangan, isu pribumi ini sengaja digulirkan Anies untuk tujuan itu, memancing reaksi lawan, dan ketika lawan bereaksi alias terpancing, Anies menuai dukungan dari isu itu. Ini artinya, Anies lebih cerdas dibanding lawan politiknya,” tegasnya.
Saat ditanya alasan yang membuat isu pribumi ini lebih kuat ketimbang isu PKI, Toto berpendapat, isu pribumi memiliki masa kadaluarsa yang sangat panjang, mengingat sampai saat ini masih menjadi bagian dari realitas politik dan sosiologis bangsa Indonesia, bahkan dunia. Lihat saja PBB sendiri, sebagai organisasi rujukan dunia, memberi ruang terbuka untuk memperingati Hari Pribumi Internasional pada setiap 9 Agustus sejak 1994.
Berbeda dengan isu PKI yang masa kadaluarsanya relatif pendek karena baik secara politik maupun sosiologis sangat segmented. Begitu juga aspek ruang dan waktu serta unsur kepentingan publiknya.
Sedangkan isu pribumi ini sudah menjadi fenomena mendunia, terjadi di hampir setiap negara. Termasuk, Indonesia, sebagai negara yang pernah dijajah Belanda dan Jepang, dimana isu pribumi itu sempat tumbuh subur sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
Karena itu, lanjut dia, dalam melihat dan menyikapi pro kontra isu pribumi ini tak perlu dengan kepala panas. Tinggal, dari sisi mana melihatnya. Yang penting, isu itu bergulir dalam koridor sosial yang wajar, tidak merembet pada aksi sosial yang anarkis dan barbar.
“Justru lebih baik kita buka isu itu ketimbang disimpan di laci yang pada saatnya meledak juga karena menyimpan bara. Anggap saja ini sebagai realitas sosiologis yang harus menjadi panduan berbangsa dan bernegara dengan tidak mengusiknya lewat ketidakadilan, kezdoliman dan kesewenang-wenangan. Sehingga, semua pihak berkaca diri. Yang pengusaha berkaca, yang berkuasa juga berkaca, bahwa kita ini masih menghadapi fakta tingginya kemiskinan dan lain-lain,” jelas Toto.
Dalam pandangan Direktur Citra Komunikasi LSI Denny Ja ini, siapa saja boleh mengganggap dirinya pribumi sepanjang orang tersebut cinta tanah air, pro NKRI dan setia kepada Pancasila. Dengan begitu, ada pribumi yang sunda, jawa, Tionghoa, Arab, Papua dan seterusnya. “So, apa yang salah dengan sebutan pribumi. Toh, selama ini juga kita tak mempersoalkan adanya Bank Boemi Putra yang berarti pribumi. Betgitu juga HIPMI, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia,” tegasnya.[Gema Rakyat / rol]

Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News
republished by Yes Muslim –  Portal Muslim Terupdate ! 


Sumber: YES MUSLIM – Portal Muslim Terupdate !
Eks Wartawan BBC: “Pikiran Besar Anies Baswedan Disambut Pikiran Cetek”
Lihat juga  Anies, Mahyeldi, dan Amal Jariah Pemilih Muslim