Home / Kabar / Bisnis Ritel Masuki Zona Kritis, Taipan Lippo Akui Sektor Bisnisnya Tertekan

Bisnis Ritel Masuki Zona Kritis, Taipan Lippo Akui Sektor Bisnisnya Tertekan

Up-News – Bisnis Ritel Masuki Zona Kritis, Taipan Lippo Akui Sektor Bisnisnya Tertekan

Seiring anjloknya daya beli masyarakat dalam beberapa tahun ini, sektor bisnis yang paling merasakan dampaknya adalah sektor ritel.

Hal ini pun diakui oleh salah satu konglomerat Tanah Air, James Riady. Taipan yang memiliki gurita bisnis Lippo Group ini memiliki lini bisnis di sektor ritel, yakni Matahari Departement Store dan Hypermart.

Akhir-akhir ini banyak gerai ritel milik Lippo itu ditutup karena adanya perubahan pola belanja masyarakat dan ketatnya persaingan. Hal ini tak lepas juga dari penurunan daya beli masyarakat.

Lihat juga  Amies Rais Ingatkan Anies-Sandi Waspadai Taipan Pro Reklamasi

Baca Juga  3 Anggota Brimob yang Tewas di Pati Ternyata Saling Tembak, Ini Identitasnya

“Memang saat ini dunia retail menghadapi siklus yang kritis,” ungkap James, di Istana Merdeka, Jakarta, ditulis Minggu (29/10).

Kondisi pelemahan sektor ritel ini, kata dia, karena adanya pola konsumsi dari masyarakat yang berubah, selain penurunan daya beli tentunya.

“Sehingga hal ini membuat persaingan hypermarket dan mini market sangat dinamis,” tandas James lagi.

‎Menurut James, pelaku bisnis ritel saat ini perlu melakukan transformasi bisnisnya sesuai dengan pola masyarakat, namun bukan berarti semuanya beralih ke dunia online.

Lihat juga  Mendagri Akui Komunisme dan Atheisme Berkembang Cepat di Indonesia

Baca Juga  (Video Heboh) Astaghfirullah, CIMSA adakan Lomba Cepat-Cepatan Pasang Anu, Pemenangnya yang Tercepat

“Satu sisi pengembangkan bisnis ritel saat ini (offline) tetap ada, tapi di lain sisi online mesti dikembangkan secara agresif,” jelasnya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani sudah jauh-jauh hari mengingatkan akan kondisi daya beli masyarakat yang anjlok di masyarakat.

Sehingga perlu ada kebijakan stimulus untuk memangkas beberapa tarif pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh) ataupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Hal ini dilakukan agar masyarakat terpicu untuk melakukan belanja.

Lihat juga  Utang-Utang yang Terus Ditumpuk Dibayar Pakai Apa?

“Ini kami usulkan terus. Memang bisa menurunkan penerimaan tapi membuat masyarakat bisa spending dan multiplier effect-nya jauh lebih tinggi lagi nantinya,” cetus Rosan di tempat yang sama.

Baca Juga  Ketum ICMI: Substansi Perppu Ormas Banyak Masalah

aktual

Sumber: Sehat Akal Suci Hati
Bisnis Ritel Masuki Zona Kritis, Taipan Lippo Akui Sektor Bisnisnya Tertekan