Home / News / Bersikap Bijak dalam Menghargai Perbedaan Keyakinan

Bersikap Bijak dalam Menghargai Perbedaan Keyakinan

Up-News – Bersikap Bijak dalam Menghargai Perbedaan Keyakinan

Oleh: Dinda Lindia Cahyani

Indonesia lagi ramai dengan boikot JnT. Dengar-dengar sih karena pihak perusahaan tersebut mengadakan gathering dengan menyediakan minuman keras.

Sehingga para pengusaha muslim diserukan untuk berpindah ekspedisi dan tidak menggunakan jasa JnT lagi.
Sebelum saya lanjutkan opini. Mari simak hal berikut.

Foto di atas adalah foto dinner gathering malam kemarin (23 Oktober 2017) di Austria dalam International Semantic Web Conference, dimana yang mengambil foto ini seorang peneliti muslim dan diundang untuk menyampaikan idenya.

Di dalam ruangan tersebut lebih dipenuhi oleh non-muslim, ada beberapa muslim lain yang berasal dari Saudi.

Mereka hanya datang sebagai pendengar. Sedangkan non-muslim yang berasal dari Eropa merupakan para ilmuwan yang juga peneliti dan penyampai gagasan dalam konferensi.

Lihat juga  Jadikan Suamimu Sebagai Pemimpin, Tak Usah Ngotot Jadi 'Raja' Dalam Rumah Tangga

Hal wajar jika ada alkohol dan daging babi di sana, karena penyelenggara acara adalah non-muslim.

Lantas, apakah mereka tak menghargai muslim yang berada di sana?

Mari berpikir sejenak, dan jangan dulu emosi.

Kita ingin dihargai, namun kita sendiri tak menghargai?

Untuk muslim, alkohol/minuman keras dan daging babi itu memang haram. Tapi untuk non-muslim alkohol itu halal.

Related Posts

Kebiasaan mereka mengonsumsi alkohol adalah hal biasa dan wajar. Jadi tak perlu mengecam dan mencaci maki kebiasaan non-muslim. Karena mereka bukan muslim. Keyakinan mereka berbeda.

Jika di dalam acara tersebut terdapat muslim, maka bersikap bijaklah. Mereka menyediakan alkohol, apa harus kita minum? Pilihan ada di tangan kita. Abaikan dan menjauh untuk menghindarinya.

Lihat juga  Ustaz Bachtiar Nasir Ditolak PCNU Tausiyah di Cirebon, Ini Kata Polisi

Pekerjaan di Indonesia itu sulit. Tingkat kemiskinan tak jua turun. Apa dengan memboikot perusahaan lantas kita bisa mengurangi kemiskinan.

Karyawan JnT itu mayoritas muslim, terutama kurir. Mereka bekerja untuk mendapat penghasilan. Apa dengan memboikot perusahaan tersebut bisa menyelesaikan masalah?

Kita, yang mengaku muslim, dan berkata Islam adalah rahmatan lil alamin. Lalu kenapa kita sebar kebencian hanya karena kebiasaan yang dilakukan non-muslim.

Kita ingin menyampaikan kebenaran, tapi tak tahu apa yang benar. Hanya mengekor saja pada massa.

Jangan jadi muslim yang hanya mengedepankan emosi tanpa berpikir jernih. Jangan hanya mengambil dalil dari Al-Qur’an dan menafsirkannya sekehendak nafsu.

Rasulullah tidak langsung menghakimi umatnya yang hura-hura dengan khamr, judi, dan zina. Karena mereka belum beriman kepada Allah, bagaimana mungkin mereka mengerti Khamr, judi dan zina itu haram.

Lihat juga  Uni Eropa tangguhkan undangan pada pemimpin militer Myanmar, tegaskan embargo penjualan senjata

Dan pula, Rasulullah tidak pernah memaksakan keimanan. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Beliau tak melarang aktviitas yang dilakukan umat agama lain.

Berhati-hatilah dalam bertindak. Apakah kita muslim yang mengenalkan Islam pada seluruh alam, ataukah malah memperburuk dengan kelakuan yang sama sekali jauh dari ajaran Islam.

Doakan mereka, karena siapa tahu suatu saat mereka memeluk Islam. Kita pun yang terlahir muslim, akan tertinggal jauh oleh dedikasinya sebagai mualaf yang mendakwahkan Islam. []

Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

Sumber: Islampos
Bersikap Bijak dalam Menghargai Perbedaan Keyakinan