Home / News / Analisis: Jenderal Gatot Ditolak Masuk AS, Negara Pengekor, Dan Lemah Secara Diplomatik !

Analisis: Jenderal Gatot Ditolak Masuk AS, Negara Pengekor, Dan Lemah Secara Diplomatik !

Up-News – Analisis: Jenderal Gatot Ditolak Masuk AS, Negara Pengekor, Dan Lemah Secara Diplomatik !





Mediaoposisi.com- Kabar Jenderal Gatot ditolak masuk ke AS sangat mengejutkan. Meski bukan kali pertama perwira militer Indonesia ditolak oleh AS, namun penolakan Gatot menjadi- Jika meminjam istilah ABC News, merupakan bencana diplomatik. Terlebih pemberitahuan dirinya ditolak masuk Amerika kepada pihak maskapai penerbangan Emirates hanya beberapa jam sebelum tinggal landas. 
Tepatnya saat Jenderal Gatot sudah berada di Bandara Soekarno- Hatta dan hendak check in, Sabtu, 21 Oktrober. Karena disampaikan melalui pegawai maskapai penerbangan tentunya tidak disertai alasan yang mengacu pada tata hubungan diplomatik antar dua negara berdaulat, sehingga terkesan sangat sewenang-wenang jika dilihat dari kaca mata publik.
Dari hal ini bisa kita simpulkan betapa terhinanya Indonesia ketika pemberitahuan bahwa panglima angkatan bersenjatanya ditolak memasuki suatu wilayah, justru disampaikan oleh pegawai sebuah maskapai penerbangan. Akan sedikit terhormat jika hal itu langsung disampaikan kepada Kemenlu atau melalui pejabat setingkat lainnya. Padahal keberangkatan Gatot bukan untuk kepentingan pribadi melainkan memenuhi undangan Pangab Amerika Serikat Jenderal Joseph F. Durford, Jr.
Penolakan terhadap kehadiran Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo  di Amerika Serikat (AS) merupakan bentuk lemahnya negara dan menunjukan kepada kita betapa Indonesia adalah negara pengekor bukan menjadi pemain utama dalam panggung dunia.
Meski saat ini AS telah mencabut larangan kunjungan Jenderal Gatot, disertai permintaan maaf oleh Duta Besar Joseph Donovan dan Menhan AS James Mattis, namun pemerintah Indonesia sebagaimana disampaikan Menlu Retno Marsudi, masih menunggu klarifikasi terhadap persoalan tersebut. 
Sikap Menlu sudah tepat karena jika tidak ada ketegasan dari Indonesia, bukan mustahil hal semacam itu akan kembali terjadi di masa mendatang. Tentu kita menghargai kebijakan dalam negeri AS, termasuk proteksi terhadap potensi gangguan keamanan dan ekonomi negaranya. 
Tetapi ada tata cara dan etika pergaulan diplomatik yang juga harus dihargai. Dan dalam hal ini menunjukan betapa lemahnya indonesia yang mengekor mengunakan model Amerika menuai menjadi negara gagal.
Keengganan AS memberikan alasan- selain sinyal bahwa penolakan terhadap Jenderal Gatot karena persoalan internal, menimbulkan spekulasi liar. Di dalam negeri, kontroversi dikaitkan dengan pelaksanaan Pilpres 2019. 
Saat ini nama Gatot tengah bersinar dan diprediksi akan menjadi peserta dalam kontestasi tersebut, entah sebagai calon Presiden maupun calon Wakil Presiden. Tidak sedikit yang meyakini Gatot akan menjadi pendamping Jokowi. Langkah Gatot mendekati kelompok Islam merupakan strategi jitu untuk memoles citra lewat pencitraan level tinggi ini semua merupakan strategi Jokowi. 
Jika Jokowi dipersepsikan sebagai wakil kelompok nasionalis, maka Gatot telah menjelma menjadi pahlawan bagi sebagian umat Islam. Kombinasi yang sulit dikalahkan dalam kontestasi politik Indonesia.  
Dalam konteks itu, maka penolakan AS memiliki muatan politik yakni seperti sandiwara menjegal langkah Gatot.  Lalu dipersepsikan Amerika mulai kuatir Indonesia akan jatuh ke orang yang kuat dan akan mampu membawa perubahan. 
Dugaan ini mungkin akan berhasil mempengaruhi publik mengingat selama ini para petinggi militer atau mantan jenderal yang ditolak memasuki wilayah AS selalu dikaitkan dengan isu Hak Asasi Manusia. Sedangkan Jenderal Gatot belum pernah diisukan terlibat dalam pelanggaran HAM baik oleh aktivis atau media dalam negeri maupun luar negeri.
Kemudian berbagai spekulasi yang beredar dalam pekan ini, ditambah bumbu peran Australia, yang menarasikan akan adanya kecurigaan adanya keterlibatan para para petinggi dan aktivis dari Negeri Kanguru itu bukan tanpa sebab. 
Terlebih media Australia diikuti media pro AS lainnya, langsung mem-blow up kasus ini dan menyebutnya sebagai bencana diplomatik. Sulit menghindari kesan adanya upaya mendiskreditkan Jenderal Gatot. Terlebih sebelumnya media-media dan juga para pengamat dan aktivis di Australia gencar memojokkan Gatot. Maka opini sang Jenderal akan terus mentereng.
Pengamat keamanan dari Universitas Deakin, Damien Kingsbury, misalnya, langsung menuding Gatot berambisi menjadi Presiden atau Wakil Presiden ketika memutuskan secara sepihak hubungan kerjasama militer dengan Australia. 
Kingsbury lebih meyakini sikap tersebut dimaksudkan untuk menarik simpati di depan masyarakat Indonesia, termasuk militer, yang sebelumnya tidak suka dengan Gatot. Media-media Austalia pun menuding keputusan yang diambil Jenderal Gatot tidak sepengetahuan Presiden Jokowi. Sungguh cerdas upaya menyihir elektibilitas.
Jenderal Gatot mulai dinarasikan menjadi momok menakutkan bagi Austalia ketika menuding lepasnya Provinsi Timor Timur (kini Negara Timor Leste) dari kedaulatan Indonesia adalah bentuk perang proksi (proxy war) yang dilakukan Australia. 
Demikian juga peran Australia di balik penguatan isu sparatis Papua. Jenderal Gatot juga pernah mempersoalkan penambahan pasukan Amerika di Darwin, Australia, karena mengancam keberadaan pulau-pulau terluar milik Indonesia seperti Masela, Saumlaki, dan Selaru yang hanya berjarak 90 KM dari Darwin. 
Pernyataan-pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka sehingga memerahkan telinga Australia. Tidak heran jika para pengamat dan media-media Australia begitu memusuhi Jenderal Gatot. Mereka pun “tega” menyematkan label rasis terkait komentar Gatot  tentang cara menghadapi banjir pengungsi jika terjadi krisis pangan di daratan Tiongkok.
Mungkinkah ada peran Australia di balik penolakan kedatangan Gatot oleh US Custom and Border Protection (CBP)? Ingat, CBP adalah lembaga di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (United States Department of Homeland Security atau DHS) yang dibentuk setelah terjadi serangan 11 September 2001. 
Bukan mustahil para pejabat CBP terpengaruh oleh lobi-lobi pejabat Australia yang gerah dengan sikap Gatot dan opini yang dibangun secara sistematis oleh para politisi dan praktisi di Australia, sehingga menyimpulkan Gatot bagian dari kelompok Islam yang oleh mereka disebut radikal. Dugaan ini lebih meyakinkan dibanding alasan lainnya mengingat alasan “persoalan internal” seperti yang disampaikan Kedubes AS memiliki beragam tafsir. Tapi yang jelas semua tidak lepas dari politik dan konstalasinya.
Hal diatas menjadi salah satu contoh ketika negara hanya menjadi pengekor dari sistem global. Kini kita semua bisa melihat dan saatnya bangkit melihat alternatif baru menyelamatkan negeri ini dari kehinaan dan kelemahan selama ini.[MO/ut]

Sumber: Media Oposisi
Analisis: Jenderal Gatot Ditolak Masuk AS, Negara Pengekor, Dan Lemah Secara Diplomatik !

Lihat juga  PPMI Soloraya Gelar Jum’at Berbagi Bersama Penghafal Quran STTD Al Hikam Solo