Home / News / Aku, Ibu yang Tercengang

Aku, Ibu yang Tercengang

Up-News – Aku, Ibu yang Tercengang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Alhamdulillah anakku berhasil mengkhatamkan hafalannya 30 juz pada malam ini. Setoran di halaman terakhir surat Al Azhab dilantunkan dengan penghayatan, tepatnya aku sih yang menghayati. Tentu saja aku bahagia, walau masih tercengang.

Tidak mudah. Mengingat dia adalah putra Mam Fifi dan sekolahnya di TK JISc, SD JISc, SMP JIBBs dan sekarang di SMU JIBBs. Sekolah ibunya sendiri dan diapun ikut menjadi pilot project dari apapun konsep yang aku buat. Mengingat perjuanganku bikin SD rumah tahfizh karena saat kecil, aku tidak jadi mendaftarkannya bersekolah ke Ampang Tahfizh School, di KL.

Rumah Tahfizh JISc 9 tahun lalu yang dulunya hanya ada 7 orang, yang aku rancang dengan ketat tapi fun, yang dulunya guru gak ada yang mau ngajar di Rumah Tahfizh, yang dulunya dianggap program yang menyusahkan atau low class. Namun, sekarang akhirnya 80 persen orang tua murid inginkan anaknya di Rumah Tahfizh. Lalu, SD Kodam pun menjelma menjadi Rumah Tahfizh dengan ribuan murid.

Juga masa dimana beratnya punya anak yang sekolah di sekolah ibunya sendiri, kebingungan para Ustadz menangani anak pimpinan adalah cobaan tersendiri bagi anakku, dan juga kesalnya si anak dan amarahnya si ibu karena kadang Ustadznya sungkan untuk menegur anak bila ada salah dan kesalnya si anak bila ada salah sedikit langsung dicap dan diperhatikan seluruh sekolah.

Lihat juga  Menteri Pertahanan Turki Kunjungi Qatar Bahas Kerja Sama Militer

Pun rawannya orang mengajak keburukan karena kalau bolos bersama-sama istilahnya asal ajak anak Mam Fifi, pastilah aman!

Tapi aku percaya bahwa Al-Quran akan menjaga anak kita, dan proses itu tidak mudah. Sejak SD Rumah Tahfizh berdiri dan dia adalah murid pertama dan konsep pun berjalan karena apa yang kuinginkan pada anakku, di situlah konsep itu terbangun.

Dan, ketika akhirnya anakku masuk SMP JIBBs. Bagaimana kami kerjasama dengan LKID dan sempat anak-anak kelas satu SMP di tempatkan di sarang penghafal Qur’an untuk kemudian kembali ke JIBBs karena bingung di LKID tidak ada Ujian Nasionalnya.

Sulit untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi anakku lebih merasa nyaman untuk setoran hafalan demi hafalan pada ibundanya sendiri. Padahal Ustadz-Ustadz di JIBBs hampir semua siap menerima setoran anakku. Termasuk juga kepada Ustadz yang menjaga administrasi. Sehingga ada saat anakku akhirnya setoran ayat demi ayat, halaman demi halaman pada ibunya melalui telepon dengan video call. Walaupun ada juga guru yang berani take over untuk ngurusin anakku tetapi anakku tidak mau. Karena maunya sama Umi.

Aku ingat, malam di bus menuju Solo, anakku mengirim pesan, ‘Mak, ayuk!’ dan tak lama melantunlah ayat-ayat yang aku jarang dengar. Ketika Al-Quran di tanganku terbuka, aku melihat ujung ayat dan mengoreksi sedikit-sedikit. Putus asa, karena aku sendiri bukan Ustadzah dan masih harus belajar Tahsin. Juga masih banyak sekali halaman yang harus diselesaikan. Dan rasanya mimpi kalau anakku bisa menyelesaikannya.

Juga, ada saat terpaksa harus menepikan setir mobil, parkir di bawah pohon. Lalu was-was didatangi polisi untuk mendengarkan anakku ziyadah atau muraja’ah. Maklum di boarding, pemakaian handphone terbatas.

Lihat juga  [Video] Ungkap Siapa Pemilik Alexis?

Dan malam ini aku pun tercengang ketika dalam waktu 19 hari, anakku berhasil murajaah dan sekaligus ziyadah 600 halaman dengan Ustadz yang dapat kami percaya dengan disaksikan beberapa Ustadz dari lembaga penghafal Al Qur’an dan para Ustadz JIBBs sendiri.

Teringat anakku bangun di malam hari dan menghafal sampai terang tanah dan kalau galau dan lagi bosan dia main basket sendirian. Dan anakku adalah produk pertama SMU JIBBs. Selama SMU JIBBs berdiri yang telah menyelesaikan hafalan Al Qur’an di kelas satu SMU adalah anakku. Insya Allah akan disusul oleh beberapa temannya lagi terutama di kelas dua SMU. Biasanya rata-rata SD dan SMP di JISc atau di JIBBs. Kalau TK, SD dan SMP di JISc atau utamanya di JIBBs kemudian diteruskan di SMU JIBBs, Insya Allah akan hafizh di usia 15 atau 16 tahun.

“Ketika aku setor halaman terakhir, rasanya ada yang nyentil telinga kanan dan terasa panas. Mungkin setannya keluar, Mi,” kata anakk sambil menyentuh telinganya.

“Targetku, murajaah satu atau dua juz sehari, Mi,” tambahnya.

“Iya nak, Umi akan ikutan tilawah banyak-banyak nemani kamu walau tempatnya beda, murajaah terus sampai malaikat maut memisahkan kita,” kataku.

Semoga istiqamah. Proses yang dilalui bertahun-tahun sejak masih kecil di Rumah Tahfizh tidak sia-sia, juga peran ibu yang terkadang menjadi guru tahfizh gantikan Ustadznya. Dan terutama usahanya sendiri yang hampir setiap hari memegang Al-Quran.

“Menghafal Al-Quran di waktu kecil bagai melukis di atas batu, menghafal di usia dewasa bagai melukis di atas air,” ujarku.

Lihat juga  Sekolah Islam Sinar Cendikia Gelar SC-Edufest 2017

Selain itu, Allah membahagiakan aku dengan cara-Nya. Dia menghibur aku. Usaha orang tua yang tidak kenal lelah dan doa yang tidak pernah putus. Buah dari doa di Raudhah. Buah dari doa orang Palestina. Karena doa orang yang dizhalimi tidak ada hijab langsung menembus ke langit. Apalagi orang yang paling didzhalimi di seluruh dunia. Dan, keinginan anak itu sendiri.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena senang terhadap apa yang diperbuat”. (fifi/dakwatuna.com)

Jazakumullahu khairul jaza’, kepada:

  1. Ustadz Tarqim yang dari awal betulkan makhrajul huruf anakku dan bersama dengan anakku di SD JISc Rumah Tahfizh dari pukul 7 hingga 5 petang, dan mau digelendotin anakku sampai pegal.
  2. Ustadz Khalik yang bersedia untuk membimbing langsung di JIBBs ketika guru lain pada bingung dan Kepsek turun langsung.
  3. Ustadz Badru yang selalu memotivasi.
  4. Ustadz Zaenal JIBBs yang siap menerima limpahan murajaah anakku yang sering kali malas-malasan.
  5. Ustadz Zaenal yang tekun memberikan semangat sampai masuk ke kamar dan bangunkan dengan lembut.
  6. Miss Rizka yang bantu anakku menghafal surat Al Fateha di TK JISc. Dan, bantuin umminya sembunyi di balik tembok kelas karena ruang kerjaku sebelahan sama kelas anakku di TK Curug. Lalu, anakku minta uminya jemput kayak teman sekelasnya.
Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:

Loading…
Fifi P Jubilea

Sumber: dakwatuna.com
Aku, Ibu yang Tercengang