Home / up-news / Berilmu vs Kebodohan

Berilmu vs Kebodohan

Up-news – Berilmu vs Kebodohan

MUSLIMDAILY.NET – Ilmu pengetahuan adalah harta terbaik yang bisa dimiliki seseorang. Para ilmuwan atau ulama yang benar adalah saksi kebenaran dan Keesaan Allah. Mereka tahu bahwa pengetahuan dan ketakutan akan Allah hanya bisa dicapai dengan membaca dan menangkap tanda-tanda Allah di dalam Al-Quran dan alam semesta. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Fatir ayat 28:

“Dan demikian (pula) di antara manusia, hewan-hewan melata dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”

Semua pengetahuan yang sesuai dengan pandangan dunia Al Quran itu penting, karena semuanya membawa manusia lebih dekat kepada Pencipta dan Pemilik-Nya, dan memfasilitasi pemenuhan misi manusia yang di bumi, yakni untuk beribadah kepada Allah semata.

Menjadi berpengetahuan membuat orang maju, visioner, taat dan secara moral kuat. Itu membuat mereka menjadi “manusia sejati”.

Ilmu pengetahuan membuat mereka menjadi manusia yang sejati, karena mereka menjaga warisan pengetahuannya tetap hidup untuk kepentingan semua makhluk. Ilmu pengetahuan juga membuat mereka menjadi pengikut Muhammad yang sejati, karena mereka sangat menghormati, mengeksplorasi dan bertindak berdasarkan tanda-tanda (ayat) dari Al Quran (qauliyah) maupun alam semesta (kauniyah).

Sehingga orang yang jahil atau bodoh terhadap ilmu pengetahuan, tidak sesuai dengan kehendak Allah yang Dia firmankan dalam Al Quran.

Meskipun demikian, karena luasnya pengetahuan, beberapa jenis dan bagian lebih penting daripada yang lain. Beberapa bisa dikategorikan wajib, ada yang direkomendasikan, namun yang lain hanya diperbolehkan. Beberapa juga bisa diklasifikasikan sebagai kewajiban individu, dan lain-lain sebagai tanggung jawab bersama.

Tak perlu dikatakan bahwa yang terbaik dari semua cabang pengetahuan adalah ilmu syariah Islam (ilmu agama) yang dengannya seseorang belajar tentang Pencipta dan Tuhannya, Rasul-Nya, Al-Quran dan agamanya, khususnya perintah, dasar dan prinsip keagamaan seperti yang dibutuhkan untuk ibadah sehari-hari seorang muslim yang baik.

Pengetahuan ini (ilmu agama) seharusnya berfungsi sebagai fondasi dari semua cabang pengetahuan lainnya dan harus dimiliki oleh semua umat Islam. Ilmu syariah Islam harus merupakan inti dari semua sistem dan dasar program pendidikan integratif, yang seharusnya tidak mengabaikan segmen keberadaan manusia (misi kehidupan), atau memperlakukan sebagian dari mereka dengan mengorbankan yang lain.

Ilmu adalah istilah umum yang tidak dapat dipisahkan dan dikelompokkan menurut garis agama atau sekuler. Dalam Islam, segala sesuatu telah disampaikan dalam ilmu agama, tidak ada sesuatun yang sia-sia dan tanpa tujuan.

Sedangkan alim (bentuk tunggal dari kata ulama) adalah orang yang tahu atau telah menguasai bidang pengetahuan, dan dalam kapasitas fungsinya dan mendukung kebenaran, dapat berasal dari berbagai bidang keilmuan.

Mengurangi konsep ilmu dan alim, secara eksklusif untuk bidang agama saja adalah tanda degenerasi peradaban Muslim yang serius. Baik ilmu dan alim/ulama perlu digunakan secara setara di semua ranah ilmu pengetahuan.

Ketika seseorang meninggal dunia dan dia ditempatkan di dalam kuburnya, dia akan diminta oleh dua malaikat yang dulu dia percayai di dunia ini, siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabi-Nya (Hadis dari Sunan Abi Dawud). Jawabannya akan memerlukan keteguhan iman dan amal sholih, sebagai hasil dari ilmu yang didapat.

Sesungguhnya alam kubur itu adalah tahapan pertama untuk akhirat. Jika seseorang telah selamat dalam menempuh tahap pertama ini, maka dalam menempuh tahapan-tahapan berikutnya ia akan lebih ringan. Jika ia tidak selamat dalam menempuh tahap pertama , maka dalam menempu tahapan-tahapan berikutnya ia akan lebih berat” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Akhirnya, ikhsan (keunggulan dalam ibadah) menunjukkan tingkat tertinggi dalam perkembangan spiritual seseorang. Namun, pada saat yang sama, ikhsan menyaring antara ilmu dan kesalehan. Nabi menggambarkan ikhsan sebagai berikut ini: ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (Shahih Muslim)

Tentu saja tingkatan yang luar biasa seperti itu bisa dicapai dan dipertahankan hanya oleh orang memiliki ilmu dan ketakwaan kepada Allah.

Oleh karena itu, Islam menentang kebodohan, mengikuti suatu hal tanpa ilmu yang mendasari.

Ditulis oleh Dr. Spahic Omer (Diterjemahkan dengan perubahan seperlunya dari aboutislam.net)

Judul: Berilmu vs Kebodohan
Sumber: Muslimdaily.net
Link: http://www.muslimdaily.net/khazanah-islam/berilmu-vs-kebodohan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *